Gentileza
A gentileza é fruto do Espírito e marca do cristão maduro. Palavras suaves, gestos de bondade e amor ao próximo — a Bíblia nos chama a tratar todos com graça e compaixão.
Seja gentil
A vossa gentileza seja conhecida de todos. A palavra branda desvia a ira, e a boa conduta atrai os que estão distantes.
Biarlah cara hidupmu masing-masing menunjukkan bahwa kamu selalu lemah lembut. Tuhan Yesus akan segera datang!
Jawaban yang lemah lembut meredakan amarah
tetapi perkataan yang kasar menggusarkan.
Perkataan yang ramah ibarat madu:
Manis di hati dan menyehatkan tubuh.
Pikirkanlah dengan bijaksana tentang bagaimana hidup di antara orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, dan gunakanlah setiap kesempatan yang ada supaya Dia dimuliakan. Berbicaralah selalu dengan ramah dan manis didengar. Dengan demikian kalian akan belajar bagaimana menjawab setiap pertanyaan mereka dengan bijaksana apabila mereka bertanya tentang Raja kita.
Oleh karena itu Saudara-saudari, sebagai orang yang sudah dipilih, dikasihi, dan disucikan oleh Allah sebagai umat-Nya sendiri, biarlah sifat-sifat ini melekat pada dirimu seperti pakaian baru. Hendaklah kamu
saling mengasihani dalam kesusahan,
selalu murah hati,
rendah hati,
lemah lembut,
dan sabar terhadap orang lain.
Gentileza como fruto
O fruto do Espírito inclui bondade e amabilidade. Amem uns aos outros com afeição fraternal e tratem bem a todos.
Tetapi kalau hidup kita dipimpin Roh Kudus, hal itu pasti tampak lewat cara hidup kita yang
saling mengasihi, bersukacita, damai,
sabar dalam kesusahan, murah hati, suka menolong sesama,
menepati janji, lemah lembut, dan bisa menguasai diri.
Hukum Taurat pun tidak menentang semua hal itu!
Oleh sebab itu, setiap ada kesempatan, marilah kita terus berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada saudara-saudari seiman.
Sebagai saudara-saudari seiman, hendaklah kalian saling mengasihi senantiasa. Jangan segan-segan membuka pintu rumahmu bagi siapa saja yang memerlukan tumpangan. Dengan berbuat begitu, ada orang-orang yang pernah menerima malaikat-malaikat sebagai tamu di rumah mereka, tanpa mereka sadari!
Karena itulah kalian harus berhenti saling menyalahkan. Dan hendaklah kalian masing-masing bertekad untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat melemahkan keyakinan saudara seiman atau membuatnya jatuh ke dalam dosa.
Jika sesamamu berbuat salah, janganlah kamu diam-diam membencinya. Tegurlah dia dengan terus terang, agar kamu tidak menanggung kesalahannya juga.
Jangan membalas dendam atau menyimpan dendam terhadap orang sebangsamu, tetapi kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri. Aku, TUHAN Allahmu, menegaskan perintah ini.
Jadi, jawaban-Ku masih sama seperti yang disampaikan oleh para nabi sebelumnya: Lakukanlah yang adil dan jujur. Tunjukkan belas kasihan dan kebaikan hati kepada sesamamu. Jangan menindas para janda dan anak yatim, orang asing, ataupun orang miskin. Jangan sekali-kali berencana untuk melakukan kejahatan terhadap sesamamu.
"Itulah yang Aku, TUHAN Panglima Semesta, sampaikan kepada nenek moyang kalian ketika kalian masih hidup makmur di Yerusalem, di kota-kota sekitarnya, dan di padang belantara Negeb.
Aku menegaskan kepadamu bahwa perkataan-Ku ini benar: Siapa saja yang menerima orang yang Aku utus, berarti dia menerima Aku. Dan siapa yang menerima Aku, berarti dia menerima Bapa yang mengutus Aku."