Hikmat ibarat guru yang memanggil manusia
20 Hikmat1:20 Hikmat Mulai ayat ini sampai ayat 33, Raja Salomo menggunakan gaya bahasa personifikasi— artinya, hikmat digambarkan seperti seorang figur yang melakukan berbagai peran layaknya manusia. Personifikasi serupa dipakai lagi di beberapa perikop dalam pasal 3-4 dan 8-9. Untuk setiap personifikasi, TSI menggunakan huruf H kapital pada kata ‘Hikmat’ guna mencerminkan hikmat seperti suatu pribadi. Dalam kitab Amsal dan Pengkhotbah, Salomo menekankan agar manusia mencari ‘kebijaksanaan’, baik dengan berpikir, belajar dari orang lain, maupun lewat pengalaman. Namun, meski seakan didapat dengan cara-cara yang alamiah, Alkitab menegaskan bahwa sebenarnya segala kebijaksanaan berasal dari Allah (Ams. 2:6). Demi kejelasan, TSI membedakan penggunaan kata ‘hikmat’ dan ‘kebijaksanaan’. ‘Hikmat’ dipakai dalam dua konteks: 1) Ketika suatu pemikiran bijaksana didapat manusia dengan cara ajaib atau inspirasi langsung dari Allah (Kis. 6:10; 9:22). 2) Ketika menerjemahkan personifikasi hikmat sebagai suatu figur/pribadi. Sebaliknya, kata ‘kebijaksanaan’ digunakan ketika ayat berbicara tentang sikap bijaksana yang didapat dengan cara alamiah. Kedua istilah tersebut juga dapat dipakai sebagai sifat Allah sendiri (Ams. 3:19-20). ibarat seorang guru yang berseru di jalan-jalan,
di tempat-tempat umum dia memanggil-manggil orang untuk mendengarkannya.
21 Di persimpangan jalan dia berteriak mengundang orang banyak,
dan di pintu-pintu gerbang dia mengumumkan dengan lantang.
Begini katanya,
22 "Hai orang-orang yang tidak berpengalaman,
sampai kapan kalian senang tinggal dalam kebodohanmu?
Hai para pengejek,
sampai kapan kalian senang menghina orang?
Dan orang-orang bebal,
apakah kalian mau tetap menolak pengetahuan?
23 Bila kalian mau berbalik dan memperhatikan teguranku,
kepadamu aku akan melimpahkan pengajaran-pengajaran dari hatiku."